Nicky Hayden, Bocah Kentucky, Jadi Raja di MotoGP
FDR Zevo
SSS chain
Corsa Ekonomis
MOTOGP
03
Jun
2017

Nicky Hayden, Bocah Kentucky, Jadi Raja di MotoGP

  10204   0
Nicky Hayden ketika menjadi juara dunia MotoGP 2006
Nicky Hayden ketika menjadi juara dunia MotoGP 2006

ITALIA, ME. Kematian tragis yang menimpa Nicky Hayden pada hari Senin (22/5), membuat para GP Mania maupun fans sejatinya merasa sangat kehilangan sang legenda. Hayden, seorang pembalap yang pernah memenangkan MotoGP musim 2006, menyisakan banyak sekali kenangan dan meninggal pada usia 35 tahun.

Mengawali karir balap pada usia belasan tahun, pembalap yang mempunyai nama lengkap Nicholas Patrick Hayden ini sudah merasakan adrenalin balapnya sejak mengikuti perlombaan dirt track maupun road racing di tanah kelahirannya, yaitu di Amerika Serikat.

Hayden sendiri lahir di Owensboro, Kentucky pada tanggal 30 July 1981. Pembalap yang mempunyai julukan “Mr. Dirt” semasa kecilnya, merupakan putra dari pasangan Earl and Rose, yang juga pembalap dirt track.

Mr. Dirt telah mengenal motor pada usia 3 tahun, selang dua tahun kemudian, atau tepatnya pada usia 5 tahun, Hayden pun berani untuk melawan kakaknya, yaitu Tommy dan Roger Lee di trek dekat kediamannya.

Dari situ lah hasrat untuk membalap di jenjang yang lebih tinggi datang. Hayden lalu mencoba untuk bertarung pada balap motor mini, dilanjutkan dengan 125cc. Perasaan yang kian menggebu-gebu  mengantarkan dirinya untuk masuk ke dalam balap profesional dengan ditandai debut karirnya lewat ajang AMA Superbike Championship.

Motor satelit di kelas AMA 750 dan 600 Supersport pun, pernah dijajal Hayden pada usia 16 tahun di pertengahan musim 1997. Lalu, pada musim berikutnya, dirinya meraih kemenangan dengan tim satelit Suzuki di dua kelas tersebut. Lepas dari Suzuki, giliran Honda yang ketiban trofi. Hayden meraih kemenangan pada AMA 600 Supersport di tim satelit top Erion pada 1999,dilanjutkan dengan dipromosikannya Kentucky Kid oleh AMA Superbike pada motor pabrikan di musim 2000.

Prestasi Hayden kian menanjak. Di tahun 2000, dia mampu finish kedua, serta ketiga pada tahun 2001. Puncaknya, di tahun 2002, ia menjadi juara termuda AMA Superbike berkat kesuksesanya dalam 600 Supersport, serta memenangkan balap Daytona 200. Laguna Seca juga sempat menjadi saksi pertempuran Hayden ketika menjadi wild card di World Superbike.

Rupanya, bos HRC mencium kejayaan Honda pada diri Hayden. Resmi, di tahun 2003, Hayden menandatangani kontrak dengan tim Repsol Honda di ajang MotoGP, sekaligus menjadi rekan satu tim Valentino Rossi.

Penghargaan Rookie of the Year, didapatkan Hayden di musim tersebut berkat perolehan double podium. Namun sayangnya, di tahun 2004, Hayden mengalami cidera patah tulang selangka, yang membuat dirinya berada di posisi ke-8 klasemen akhir.

Sementara itu, di tahun 2005, Kentucky Kid kembali menunjukkan taringnya dengan memperoleh podium utama pertamanya di Laguna Seca, sebelum merebut kemenangannya di kelas MotoGP satu tahun kemudian.

Tahun 2006 merupakan tahun yang sangat spesial bagi Hayden. Walaupun hanya memenangi balapan di dua seri (Assen dan Laguna Seca), tapi Hayden sangat konsisten dalam mendapatkan podium di musim tersebut. Sehingga cita-citanya untuk menjadi pembalap motor terdepan, terlaksana walaupun sempat ditabrak rekan setimnya saat itu, Dani Pedrosa, sebelum memastikan dirinya menjadi juara dunia atau tepatnya di sirkuit Estoril, Portugal.

Kejadian yang tidak mengenakan dengan rekan satu timnya tersebut, otomatis membuat Hayden harus kembali meraih delapan poin di seri terakhir yang digelar di Valencia. Tapi, dengan segala drama yang terjadi di seri pamungkas tersebut, akhirnya rider kebanggan Amerika Serikat ini, mampu menjadi juara dunia, setelah Rossi melakukan kesalahan yang mengakibatkan dirinya crash.

Performa Hayden selepas meraih gelar, agak menurun lantaran perubahan regulasi dari MotoGP ke motor balap berkapasitas 800cc di tahun 2007. Itu yang membuat pemilik nomer start #69 ini berada di urutan kedelapan klasemen akhir. Maju ke tahun 2008, Hayden nampaknya mulai bisa beradaptasi dengan regulasi tersebut, walaupun belum maksimal dengan menempati urutan keenam berkat kemenangannya di Indianapolis dan Phillip Island.

Pilihan Hayden untuk hijrah ke Ducati di tahun 2009 pun, belum bisa mengembalikan masa kejayaan yang pernah diraih sebelumnya. Ia turun di peringkat ke-13 di tahun tersebut. Lalu, musim keduanya, Hayden mampu menempatkan posisinya pada urutan ketujuh berkat podium di Aragon. Dan di tahun 2011, Hayden kembali satu garasi dengan Rossi, serta menempati peringkat ke-8 berkat podium ketiga di Jerez, Spanyol.

Tahun 2012, Hayden kembali mengalami cidera dan berada di peringkat ke-9 setelah absen beberapa seri. Sementara di tahun terakhirnya bersama Ducati, atau tepatnya di tahun 2013, Kentucky Kid menutup musimnya bersama pabrikan asal Italia tersebut di peringkat ke-5 klasemen akhir, dan juga finish kelima sebagai hasil terbaik.

Honda kembali menjadi rumah bagi Hayden di tahun 2014. Namun, pada saat itu, tim satelit lah yang mempersilahkan mantan juara dunia tersebut menggeber motornya. Adalah Aspar Team yang menerima dengan tangan terbuka kedatangan Hayden. Namun, Hayden hanya mampu meraih total poin 47 serta berada di posisi ke-16 di akhir klasemen.

Setahun kemudian, merupakan musim terakhir bagi Kentucky Kid beraksi dalam ajang MotoGP. Tepat pada konferensi pers Motegi 2015, dirinya mengumumkan untuk mengakhiri karirnya di ajang tersebut dan kembali ke World Superbike bersama Honda.

Semangatnya tidak pernah pudar untuk selalu berjaya di dunia balap motor. Itu semua dibuktikan ketika ia memenangi balap di sirkuit Sepang, Malaysia, pada tahun 2016 silam. Setelah itu, Hayden pun kembali ke arena MotoGP. Tapi kali ini hanya untuk menggantikan Jack Miller di Marc VDS Racing ketika seri Aragon berlangsung. Lepas dari situ, Honda kembali menggunakan jasanya untuk menggantikan Pedrosa di Phillip Island, walaupun pada akhirnya Hayden tidak merasakan finish lantaran crash ketika melewati tikungan 4, yaitu Honda Corner.

Muncul kembali di tahun 2017 dengan mengendarai Honda Fireblade spesifikasi 2017, Hayden mempunyai target untuk menjadi pembalap pertama yang sukses meraih dua gelar, yaitu World Superbike dan juga MotoGP. Namun sayangnya, setelah lima seri berlangsung, ia hanya mampu berada di urutan ke-13 dengan total 40 poin.

Tapi nasib berkata lain, setelah perjalanan panjang dan juga semangat yang tiada akhir, Hayden harus merelakan mimpinya tersebut. Sebuah insiden tabrakan yang telah merenggut nyawa dan juga harapannya, terjadi pada tanggal 17 Mei 2017 lalu, ketika sedang bersepeda bersama temannya di Rimini, Italia. Setelah mengalami koma selama 5 hari, Hayden meninggal dunia pada 22 Mei 2017.

Selamat jalan Hayden, indahnya aksimu di atas motor akan terus dikenang sepanjang masa. Godspeed! 

Text: Reza (reza@motorexpertz.com),
Text editor: Donnyantoro,
Photo: Motogp.com
  311 Votes

Artikel Terkait

CONNECT WITH
TRANSLATE
Dari tiga pilihan motor penggaruk tanah di bawah ini, mana yang paling loe suka bradsis?
A. Kawasaki KLX 250 (33)
B. Yamaha WR 250 R (51)
C. Viar Cross X 250 SE (45)
NHK Karel 2
  PERLU BRAD SIST BACA JUGA !