Anatomi Dan Evolusi Teknologi Shockbreaker
GM Juli 2015
SSS chain
Achilles Tire
KNOWLEDGE
18
Des
2017

Anatomi Dan Evolusi Teknologi Shockbreaker

  12568   0
Anatomi dan evolusi shocbreaker
Anatomi dan evolusi shocbreaker
Anatomi dan evolusi shocbreaker
Anatomi dan evolusi shocbreaker
Anatomi dan evolusi shocbreaker
Anatomi dan evolusi shocbreaker

JAKARTA, ME. Shockbreaker jadul umumnya mengandalkan  per dan as di dalam tabung berisi oli pada sistem peredam kejutnya. Shockbreaker kuno seperti itu belum memiliki setelan (adjuster). Kemudian berkembang menjadi model yang dilengkapi dengan setelan, namun hanya pada per yang berguna untuk mengatur tingkat kekerasan.

Perkembangan shockbreaker terus bergulir, aplikasi teknologi setelan rebound kemudian merebak. Banyak diproduksi shock yang proses baliknya bisa diatur kecepatannya. Setelan rebound ini bisa diatur dengan cara memutar ke arah kiri atau ke kanan untuk memperbesar atau memperkecil daya pantulan.  Generasi berikutnya, lahir model shock rebound yang dilengkapi dengan tabung sebagai penyempurna redaman balik. Sedangkan oli sok berfungsi mengembalikan per suspensi yang memantul ketika meredam guncangan.

Perpaduan Per, Oli & Gas

Seiring perkembangan waktu, shockbreaker mengalami evolusi dan perkembangan. Tak hanya mengaplikasikan oli sebagai sistem peredam kejutnya, namun kemudian menerapkan kombinasi gas dan oli. Bahkan yang lebih modern telah menggunkan gas sepenuhnya dalam sistem peredam guncangan.

 Inovasi tersebut muncul sebagai salah satu solusi yang muncul dari fenomena munculnya gas dari senyawa oli. Shockbreaker kemudian dilengkapi dengan tabung kecil berisi gas di dalamnya.  Tabung berisi gas itu berfungsi untuk mempertahankan tekananan oli agar selalu tinggi, serta mencegah agar oli tidak berubah menjadi gelembung-gelembung gas.

Shockbreaker hybrid

Shockbreaker yang mengaplikasikan oli dan gas untuk meredam getaran dibedakan menjadi dua, yaitu; shockbreaker hybrid dan gas tabung terpisah. Shockbreaker hybrid lebih duluan muncul dibandingkan dengan tabung terpisah. Shockbreaker hybrid mengaplikasikan oli dan gas yang bercampur di dalam satu tabung, sehingga kinerja yang dihasilkan melahirkan dua efek kerja. Teknologi oli dan gas ini membuat shockbreaker menjadi lebih empuk ketika berada di titik mati terendah.

Menurut Benny Rachmawan selaku kepala R&D Mitra 2000, pemegang merek YYS,  tiap shockbreaker memiliki komposisi berlainan. Yang pasti, oli diisikan terlebih dulu ke dalam shock. “Gas yang digunakan adalah Nitrogen. Gas ini bersifat stabil. Sifat kimia dan fisiknya tak mudah berubah karena perubahan suhu,” paparnya.

Shockbreaker tabung terpisah

Dari shockbreaker hibryd mari kita beralih ke shock breaker tabung terpisah. Shock ini juga disebut sebagai shockbreaker double action. Oli dan gas berada dalam wadah terpisah, sehingga menimbulkan 2 cara kerja yang berbeda di dua tempat. Gas Nitrogen ditampung dalam sebuah balon karet yang berada di dalam tabung terpisah. Balon Nitrogen itu bernama bladder.

Bladder berfungsi membuat  proses rebound menjadi sempurna, sehingga dapat melindungi pada saat berkendara dari guncangan. Awalnya, sebelum bladder diciptakan, banyak produsen menggunakan piston yang bekerja untuk memompa dan memberikan tekanan di tabung. Namun ternyata piston mengandung kelemahan. Piston punya daya fisik yang berlebihan, akibanya dapat membuat tabung menjadi gampang panas.

Problem tersebut kemudain membuat piston penekan tabung itu berevolusi menjadi balon yang dibuat dari karet. Balon berisi gas ini diisi dengan gas Nitrogen, dijuluki sebagai bladder. Balon yang dibuat dari karet tersebut mampu meminimalkan terjadinya gesekan, sehingga performa shock breaker menjadi lebih tahan banting dalam kurun waktu yang lebih lama. Karakter bladder yang elastis memberikan tingkat kinerja yang semakin tinggi.

Lantas bagai mana mekanisme kerja shock tersebut? Ketika shock mendapatkan tekanan, oli akan bergerak. Mengalir melalui jalur kecil menuju tabung tambahan, kemudian menekan bladder. Berikutnya bladder akan mengembalikan tekanan tersebut menuju ke tabung utama.

Double Tube Gas Menjadi Penyempurna

Di dunia balap sepeda motor, shockbreaker memberikan sumbangan sekitar 60-70 % terhadap performa motor, persentase lain ditentukan oleh mesin. Shockbreaker double tube gas atau DTG menjadi model penyempurnaan dari shockbreaker model hybrid.

Teknologi double tube gas, kombinasi special hydrolic oil dan gas nitrogen dipadu double tube diklaim mampu bekerja secara sinergi. Menghasilkan kualitas redaman lebih sempurna. Shock breaker ini juga memiliki performa handling sepeda motor yang lebih mumpuni bila dibandingkan dengan model shockbreaker sebelumnya.  Kelebihan lain yang diberikan yaitu lebih lembut dan lebih awet. Shock ini tidak mudah bocor seperti shock lainnya.

Shockbreaker model ini, sekarang banyak diaplikasikan untuk bagian belakang sepeda motor. Tak jarang skuter yang mengaplikasikan shockbreaker tersebut. Terutama diaplikasikan untuk skuter matik berukuran besar, misalnya; Yamaha NMax, dan Aerox.  Shockbreaker ini memiliki kinerja peredaman yang lebih mulus bila dibandinkan dengan shockbreaker biasa. Lebih kuat dan juga lebih awet.

 

Text: Teguh Choya (teguhjiwabrata@gmail.com),
Text editor: Banar Giwantono,
Photo: Teguh Ch
  27 Votes

Artikel Terkait

CONNECT WITH
TRANSLATE
Dari tiga pilihan motor penggaruk tanah di bawah ini, mana yang paling loe suka bradsis?
A. Kawasaki KLX 250 (20)
B. Yamaha WR 250 R (51)
C. Viar Cross X 250 SE (37)
KYT Helmet
  PERLU BRAD SIST BACA JUGA !