MOTOREXPERTZ.COM --- Pernahkah kalian sadar jika motor MotoGP yang terjatuh biasanya sulit untuk dihidupkan lagi, bahkan tidak akan bisa dihidupkan Kembali?
Kalau sering nonton MotoGP, pasti pernah lihat momen frustrasi ini, rider jatuh, buru-buru bangkit, berusaha menghidupkan motor, tapi mesinnya tetap diam.
Hal ini mungkin paling sering terlihat dari Marc Marquez di awal kariernya ketika terjatuh dan masih memungkinkan ia masih memegang stang motornya dengan tujuan masih menarik sedikit gas walau aksi ini dilarang karena bisa berbahaya. Namun, jika memang sudah terpental maka mau tak mau motornya jadi terpisah dengannya.
Padahal motornya kelihatan masih utuh, bahkan kadang cuma tergelincir ringan. Jadi kenapa motor MotoGP sering susah hidup lagi setelah jatuh? Jawabannya bukan soal kualitas mesin, tapi karakter ekstrem motor balap itu sendiri.
BACA JUGA:3 Aktor Dunia Koleksi Motor Keren: Ada yang Punya Motor MotoGP
BACA JUGA:MotoGP Memanas: Domino Transfer Terjadi antara Pedro Acosta, Francesco Bagnaia, dan Fabio Quartararo
Mesin MotoGP Tidak Dirancang untuk Jatuh Lalu Jalan Lagi
Motor MotoGP adalah prototipe balap murni. Tidak ada kompromi untuk kepraktisan. Setiap komponen dibuat demi performa maksimal di lintasan, bukan untuk kondisi darurat setelah kecelakaan.
Begitu motor jatuh, sistem elektroniknya langsung menganggap ada risiko besar dan memutus beberapa fungsi penting demi keselamatan mesin dan rider.
Sensor Jatuh Langsung Mengunci Sistem
Motor MotoGP dilengkapi sensor sudut kemiringan dan sensor impact. Saat motor terjatuh atau terguling melewati batas tertentu, ECU akan mematikan mesin secara otomatis.
Tujuannya jelas: mencegah over-rev, kerusakan internal, atau kebocoran bahan bakar yang bisa memicu kebakaran.
BACA JUGA:3 Pembalap yang Bisa Ciptakan Kejutan Jadi Juara di MotoGP 2026
BACA JUGA:BREAKING! Marc Marquez Umumkan Kapan Dirinya Pensiun dari MotoGP
Berbeda dengan motor harian, sistem yang ada motor MotoGP ini jelas tidak selalu bisa “reset” secara instan.