Seluruh perangkat pengatur ketinggian tersebut memang dijadwalkan akan dilarang sepenuhnya pada musim depan.
Namun, desakan untuk memberlakukan larangan instan semakin menguat pasca rentetan insiden fatal di sirkuit Catalunya baru-baru ini.
BACA JUGA:Puluhan Pengguna Fazzio dan Grand Filano Adu Kreativitas di Yamaha CLASSY Modifest 2026
Isu sensitif ini kembali mencuat ke permukaan setelah terjadi kecelakaan beruntun pada balapan di Balaton Park akhir pekan lalu.
Otoritas tertinggi kejuaraan dunia kini dituntut segera mengambil langkah preventif secara tepat.
Petinggi pabrikan Aprilia, Massimo Rivola, memberikan pandangan yang sedikit berbeda mengenai polemik regulasi teknis ini.
Skuadnya sendiri sempat dirugikan setelah pembalap andalan mereka, Jorge Martin, menjadi pemicu utama insiden karambol di Balaton Park.
Rivola mengingatkan seluruh pihak agar tidak mengambil keputusan secara emosional.
Pria berkebangsaan Italia itu menyatakan bahwa pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan pengelola kejuaraan guna meningkatkan standar keselamatan.
Walaupun secara personal dirinya tidak menyukai penggunaan peranti elektronik, namun kebijakan terburu-buru dinilai bukan solusi bijak.
Analisis mendalam perlu dilakukan agar tidak memicu salah paham baru di paddock.
BACA JUGA:Wahana Honda Tanam 650 Bibit Pohon di UMJ, Ajak Mahasiswa Peduli Kualitas Udara
Rivola menambahkan bahwa pengujian berulang tanpa menggunakan perangkat peluncur harus dilakukan terlebih dahulu sebelum regulasi resmi diketuk.
Dirinya juga mendukung wacana pengurangan kepadatan jumlah pembalap di barisan depan saat momen start dimulai.
Skema formasi grid baru dinilai bisa menjadi opsi alternatif yang sangat masuk akal.
Konsep pengurangan kepadatan tersebut merujuk pada usulan perubahan formasi baris start menyerupai gaya balap mobil roda empat.