MOTOREXPERTZ.COM -- Bos Aprilia Racing, Massimo Rivola, akhirnya memilih legowo setelah upaya bandingnya ditolak mentah-mentah oleh Stewards FIM.
Banding tersebut diajukan terkait sanksi skorsing balapan yang dijatuhkan kepada sang pembalap, Marco Bezzecchi, akibat tindakan emosional menampar seorang marshal bernama Ladislav pada sesi sprint race GP Ceko.
Akibat insiden "tangan ringan" ini, Aprilia harus membayar mahal. Absennya Bezzecchi di sirkuit Brno membuat Ducati panen poin lewat kemenangan Pecco Bagnaia di sprint dan Marc Marquez di main race.
Alhasil, dominasi Aprilia di puncak klasemen konstruktor kini terancam badai, dengan selisih yang menyusut drastis menjadi hanya 5 poin dari Ducati.
BACA JUGA:Tok! 5 Pabrikan Raksasa MotoGP Resmi Tanda Tangani Kontrak Baru 2027-2031
Standar Ganda FIM? Rivola Anggap Sanksi Terlalu Berat
Meski menerima keputusan tersebut, Rivola tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas bobot hukuman yang diterima Bezzecchi. Menurutnya, sanksi larangan balapan tergolong sangat ekstrem dan belum pernah terjadi sebelumnya untuk kasus serupa.
"Kami tidak meragukan bahwa hukuman itu pantas, dan kami sudah meminta maaf kepada marshal yang bersangkutan. Namun, bagi kami hukuman ini tidak proporsional," ungkap Rivola.
Pria asal Italia ini kemudian membandingkannya dengan insiden masa lalu yang mirip, salah satunya ketegangan antara Franco Morbidelli dan Aleix Espargaro di GP Silverstone 2025.
"Saat itu tidak ada tindakan hukum apa pun. Perkiraan awal saya, Marco paling hanya didenda atau penalti turun grid, bukan dilarang balapan," tambahnya.
BACA JUGA:Buntut Insiden MotoGP Hungaria 2026, Bos Aprilia Buka Suara Soal Isu Larangan Ride Height Device
Kronologi di Balik Garasi: Adrenalin Tinggi dan Proteksi Motor
Menariknya, insiden pemukulan ini luput dari sorotan kamera televisi. Manajemen Aprilia bahkan baru mengetahui kejadian sebenarnya setelah Bezzecchi kembali ke paddock dengan kondisi emosi yang masih meluap-luap.
Dari sudut pandang pembalap, Bezzecchi mengaku refleknya tersebut dipicu oleh kepanikan untuk menyelamatkan motornya. Ia menganggap sang marshal justru melakukan tindakan yang berpotensi merusak mesin Aprilia RS-GP miliknya.
"Reaksi pertama Marco untuk mengamankan motornya setelah crash masih bisa saya pahami. Namun, semua yang terjadi setelah itu (menampar marshal) jelas tidak dapat diterima," tegas Rivola.
BACA JUGA:Bos Aprilia Kritik Jorge Martin Usai Blunder Fatal di MotoGP Hungaria 2026
Sisi Ekstrem MotoGP yang Kerap Luput dari Publik
Sebagai bos tim, Rivola mencoba memberikan perspektif lain mengenai tekanan mental yang dihadapi para rider MotoGP. Menurutnya, publik sering kali lupa betapa ekstremnya situasi psikologis pembalap di lintasan, di mana komitmen penuh dan ambisi besar terkadang berujung pada hilangnya kendali emosi.