MOTOREXPERTZ.COM --- Motor modern, khususnya yang sudah menggunakan sistem injeksi bahan bakar, memiliki berbagai sensor untuk membantu mesin bekerja secara optimal. Salah satunya adalah sensor oksigen atau oxygen sensor yang memiliki peran penting dalam mengatur proses pembakaran.
Meski ukurannya relatif kecil, komponen ini berpengaruh terhadap efisiensi bahan bakar, performa mesin, hingga emisi gas buang. Lantas, apa sebenarnya fungsi sensor oksigen pada motor?
Mengukur Kandungan Oksigen pada Gas Buang
Sensor oksigen umumnya berada pada bagian saluran knalpot, dekat dengan area keluarnya gas buang dari mesin. Tugas utamanya adalah mendeteksi kandungan oksigen yang terdapat di dalam gas buang.
Data tersebut kemudian dikirimkan ke Electronic Control Unit atau ECU. Informasi dari sensor menjadi salah satu acuan bagi ECU untuk menentukan apakah campuran udara dan bahan bakar yang masuk ke mesin sudah sesuai.
BACA JUGA:Kenali 6 Jenis Sensor Penting di Motor Injeksi dan Fungsinya, Jangan Asal Vonis Rusak!
BACA JUGA:10 Komponen Ini Wajib Kalian Perhatikan Agar Motor Tetap Awet Terjaga
Dengan begitu, sistem injeksi dapat melakukan penyesuaian agar proses pembakaran berlangsung lebih optimal.
Membantu Menentukan Campuran Bahan Bakar
Dalam proses pembakaran, mesin membutuhkan campuran udara dan bahan bakar dengan komposisi yang tepat. Jika bahan bakar terlalu banyak dibandingkan udara, campuran disebut terlalu kaya. Sebaliknya, jika udara terlalu banyak, campuran menjadi terlalu miskin.
Sensor oksigen membantu ECU mengetahui kondisi campuran tersebut berdasarkan gas hasil pembakaran. ECU kemudian dapat menyesuaikan jumlah bahan bakar yang disemprotkan oleh injektor.
Proses tersebut berlangsung secara terus-menerus ketika mesin bekerja sehingga sistem dapat menyesuaikan suplai bahan bakar dengan kondisi mesin.
Membantu Menghemat Bahan Bakar
Sensor oksigen yang bekerja dengan baik juga berperan dalam menjaga efisiensi konsumsi bahan bakar. Ketika campuran udara dan bahan bakar dapat dikontrol dengan tepat, bahan bakar yang digunakan untuk proses pembakaran dapat menjadi lebih efisien.
Sebaliknya, sensor yang bermasalah dapat membuat sistem injeksi menerima informasi yang tidak akurat sehingga pengaturan campuran bahan bakar menjadi kurang optimal. Akibatnya, konsumsi bahan bakar bisa meningkat pada kondisi tertentu.