Menariknya, kegiatan ini juga menghadirkan guest speaker dari dunia kopi.
Peserta mendapat penjelasan mengenai berbagai jenis kopi, manfaat, kekurangan, serta pengaruhnya terhadap tubuh. Materi tersebut kemudian dikaitkan dengan kebiasaan anak muda yang sering mengonsumsi kopi untuk menemani aktivitas sehari-hari.
Namun, peserta diingatkan agar tidak menganggap kopi sebagai penentu apakah tubuh masih aman digunakan untuk berkendara.
Rasa kantuk tetap menjadi sinyal penting yang harus diperhatikan. Jika sudah mengantuk, pengendara sebaiknya menepi dan beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
“Ngopi boleh tidak dilarang, akan tetapi jangan sampai membuat kita salah memahami kemampuan tubuh. Ketika sudah mengantuk, solusi yang paling aman bukan memaksakan diri untuk tetap berkendara. Kenali kondisi tubuh dan pilih keputusan yang paling aman,” tambah Agus Sani.
BACA JUGA:Royal Enfield Himalayan Listrik Kepergok Uji Jalan, Dites Langsung di Medan Ekstrem
Ada Pre-Test hingga Challenge Konten
Selain materi, para peserta juga mengikuti pre-test dan post-test untuk melihat sejauh mana pemahaman mereka mengenai keselamatan berkendara sebelum dan setelah mengikuti seminar.
Sesi tanya jawab juga digelar untuk membahas berbagai situasi yang sering dihadapi pengendara di jalan.
Selain itu, peserta mendapat challenge membuat konten media sosial mengenai pengalaman dan keseruan mereka selama mengikuti kegiatan.
Langkah tersebut diharapkan membuat pesan keselamatan berkendara bisa menjangkau lebih banyak anak muda dan tidak berhenti di ruang seminar saja.
Kegiatan ditutup dengan sesi sharing sekaligus penguatan pesan #Cari_Aman.
Melalui kegiatan ini, WMS berharap semakin banyak generasi muda yang memahami bahwa keselamatan berkendara bukan hanya soal bisa sampai tujuan.
Yang lebih penting adalah mempersiapkan kondisi tubuh, mengenali batas kemampuan, membaca situasi di jalan, dan berani mengambil keputusan paling aman.