Dari kompetisi tersebut, SMKN 5 Kabupaten Tangerang berhasil mencatatkan prestasi terbaik.
Untuk kategori guru, Muhammad Erlangga berhasil meraih juara. Sementara dari kategori siswa, Hero Sanjaya dan Ahmad Bahrul Ulum juga berhasil menjadi peserta terbaik.
Keterlibatan guru dan siswa sengaja dibuat beriringan karena keduanya punya peran penting dalam membangun budaya keselamatan berkendara di sekolah.
Guru dapat meneruskan pengetahuan yang didapat kepada siswa, sedangkan pelajar bisa menjadi contoh sekaligus mengajak teman sebayanya untuk lebih peduli terhadap keselamatan di jalan.
“Kami berharap pengalaman selama kegiatan ini tidak berhenti ketika kompetisi selesai. Peserta dapat membawa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk diterapkan dalam keseharian sekaligus mengajak lingkungan di sekitarnya untuk terus #Cari_Aman. Dengan begitu, edukasi keselamatan berkendara dapat berkembang lebih luas,” tambah Agus Sani.
BACA JUGA:Honda BeAT x DanDaDan Curi Perhatian di Ajang Indonesia Comic Con 2026
Lanjut ke Kompetisi Tingkat Nasional
Prestasi di tingkat regional sekaligus menjadi tiket bagi guru dan siswa SMKN 5 Kabupaten Tangerang untuk membawa nama Jakarta–Tangerang ke kompetisi tingkat nasional.
Pada ajang tersebut, mereka akan berhadapan dengan peserta terbaik dari Main Dealer Astra Honda di berbagai wilayah Indonesia.
Cari_Aman Academy Bootcamp tingkat nasional yang diselenggarakan PT Astra Honda Motor (AHM) berlangsung pada 6–8 Oktober 2026 di Astra Motor Safety Riding Center Jawa Tengah.
Di level nasional, para peserta kembali ditantang menunjukkan kemampuan dalam pengetahuan keselamatan berkendara, teknik berkendara, komunikasi, serta edukasi keselamatan.
WMS menyebut keterlibatan guru dan pelajar menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem keselamatan berkendara yang lebih kuat sejak dari lingkungan sekolah.
Program tersebut juga menjadi bagian dari semangat Sinergi Bagi Negeri (SBN) melalui edukasi keselamatan berkendara yang dilakukan secara berkelanjutan.
Harapannya, semangat #Cari_Aman bukan sekadar materi dalam kompetisi, tetapi bisa benar-benar menjadi kebiasaan yang dibawa peserta dalam setiap perjalanan sehari-hari.