Kontrol traksi dan ABS tersedia dan bisa dimatikan, meski belum mengandalkan sistem IMU seperti model Triumph kelas atas.
Panel instrumen menggabungkan analog dan layar LCD, sama seperti platform 400 Triumph lainnya, dengan informasi yang mudah dibaca untuk penggunaan harian.
4. Ergonomi Sport Jadi Pembeda Utama
Posisi berkendara menjadi pembeda paling terasa. Setang model clip-on dengan raiser dibuat lebih sempit dan jauh lebih rendah dibanding Speed 400.
Footstep juga dimundurkan dan ditinggikan, menciptakan posisi badan condong ke depan dengan beban lebih besar ke roda depan.
Hasilnya adalah sensasi berkendara yang lebih terlibat dan sporty, meski konsekuensinya potensi kenyamanan berkurang untuk perjalanan jauh—sesuatu yang memang menjadi karakter cafe racer sejati.
BACA JUGA:Awal 2026 Masih Stabil! Update Harga Motor Suzuki Terbaru Januari Ini
5. Suspensi Disetel Khusus
Semua Triumph 400 menggunakan rangka baja tubular hybrid dengan subframe belakang baut dan swingarm aluminium cor. Pada Thruxton 400, suspensi menjadi pembeda karakter.
Motor ini menggunakan fork terbalik Showa Big Piston dengan travel 5,5 inci di depan dan sokbreker belakang adjustable preload dengan travel 5,1 inci.
Meski komponennya mirip Tracker 400, setelan suspensinya dibuat berbeda agar sesuai karakter sport.
BACA JUGA:Dari Bengkel Sempit ke Tahta Dunia: Sejarah Honda Menciptakan Motor Roda Dua dan Menguasai Jalanan
BACA JUGA:Dari Alat Musik ke Raungan Mesin: Sejarah Yamaha Menciptakan Motor dan Menaklukkan Dunia Kecepatan
6. Rem ByBre, Efektif dan Rasional
Sistem pengereman ditangani ByBre, lini produk Brembo yang lebih terjangkau. Di depan terpasang kaliper radial 4-piston dengan cakram 300 mm, sementara belakang menggunakan kaliper satu piston dan cakram 230 mm.