Isu lain yang ramai dibahas adalah jarak tempuh dan pengisian daya. Walau teknologi baterai terus berkembang, banyak pemotor masih ragu mengandalkan motor listrik untuk mobilitas harian yang padat dan tak terduga.
Stasiun pengisian belum merata, sementara waktu charging masih dianggap kurang praktis dibanding isi bensin yang cepat dan fleksibel.
BACA JUGA:Perkiraan 5 Motor yang Bakal Laris di Februari 2026: Molis Mulai Masuk Perhitungan
BACA JUGA:5 Motor Listrik yang Paling Banyak Diminati di Indonesia, Ada Molis Pilihan Kalian?
Hype Media vs Realita Lapangan
Motor listrik memang terlihat menjanjikan di konten digital dan pameran. Namun di lapangan, banyak pengguna masih menilai motor bensin lebih “siap pakai” untuk segala kondisi—dari kerja, touring ringan, sampai penggunaan jarak jauh.
Inilah yang membuat diskusi di komunitas sering berujung pada kesimpulan yang sama, menarik, tapi belum mendesak untuk dimiliki.
Motor listrik bukan gagal, tapi belum benar-benar matang untuk pasar massal. Selama harga masih tinggi, subsidi belum pasti, dan infrastruktur belum merata, motor konvensional tetap jadi pilihan utama pemotor Indonesia.
Tak heran jika topik ini terus ramai dibahas—karena semua orang tahu motor listrik adalah masa depan, tapi pertanyaannya tetap sama, kapan motor listrik benar-benar siap bersaing? Menarik untuk dinanti.