Beirer menjelaskan bahwa tekanan ban sangat bergantung pada posisi pembalap selama balapan berlangsung.
Jika pembalap berada di belakang lawan, suhu panas akan membuat tekanan ban melonjak drastis.
Kondisi ini justru membuat motor menjadi sulit dikendalikan dan sangat berbahaya bagi sang pembalap.
Sebaliknya, tekanan ban akan menurun secara otomatis jika seorang pembalap melaju sendirian di depan.
BACA JUGA:Resmi Hadir di Indonesia, Ducati Panigale V4 R Bawa DNA MotoGP ke Jalan Raya
Hal inilah yang dianggap tidak adil karena mekanik sulit memprediksi situasi di lintasan balap.
Beirer mengusulkan agar pengecekan tekanan ban dilakukan secara seragam saat motor berada di starting grid.
Kritik ini pun sudah disampaikan langsung kepada Presiden FIM saat pertemuan di area grid balapan.
Beirer berharap perubahan segera dilakukan sebelum kontrak ban beralih dari Michelin ke Pirelli pada 2027 mendatang.
BACA JUGA:MotoGP: Cabut dari Honda, Kurt Trieb Dikabarkan Bakal Balik ke KTM
Pergantian pemasok ban tersebut menjadi peluang emas untuk merevisi seluruh metode penentuan legalitas tekanan ban.
Aturan saat ini dianggap tidak memberikan keuntungan performa yang signifikan bagi mereka yang melanggar.
Selisih tekanan sebesar 0,03 bar dinilai tidak memberikan dampak apa pun pada kecepatan motor.
Oleh karena itu, regulasi ini dianggap omong kosong yang hanya merusak esensi dari kompetisi MotoGP.