Mengenai latar belakang pemilihan ide, Mahesya Friemay Romadhoni memberikan penjelasan resminya secara detail.
“Kami memilih topik ini karena microsleep merupakan masalah nyata dan sangat relevan di Indonesia, terutama bagi pengguna sepeda motor yang mendominasi angka kecelakaan nasional,” ujar Mahesya.
BACA JUGA:Jangan Asal Semprot! Ini Bagian Motor Listrik yang Gak Boleh Kena Air Berlebih Saat Dicuci
“Perkembangan teknologi IoT dan smart mobility juga membuka peluang besar untuk menghadirkan sistem keselamatan yang lebih preventif, murah, dan mudah diimplementasikan,” lanjutnya.
Dalam proses analisis ilmiah, tim menggunakan basis metode machine learning dan sensor fusion.
Langkah ini penting guna mengklasifikasikan tingkat kantuk pengendara secara akurat.
Kajian keselamatan produk ini turut menerapkan konsep Heinrich’s Accident Triangle serta Swiss Cheese Model.
Proses perancangan desain visual prototipe dikerjakan menggunakan perangkat lunak SolidWorks dan AutoCAD.
Rizky Miftah Alfiah memaparkan proses awal penemuan ide orisinal helm pintar tersebut.
“Prosesnya memakan banyak waktu karena kami benar-benar melakukan brainstorming berhari-hari untuk mendapatkan ide SADAR Helmet,” ujar Rizky.
“Kebetulan kami juga sedang mengambil mata kuliah Pengembangan Produk dan Bisnis, sementara K3 menjadi salah satu objek kajian di Teknik Industri,” tambahnya.
BACA JUGA:Piringan Cakram Motor Mulai Tipis, Ini Risiko Kalau Tetap Dipakai Harian
SADAR Helmet diharapkan mampu menekan angka fatalitas di jalan raya secara masif.
Tim iConic berniat mengembangkan integrasi aplikasi mobile dan pelacakan GPS berbasis kecerdasan buatan.
Terkait evaluasi kompetisi, Muhammad Yasser Saputro membagikan poin pembelajaran penting yang didapatkan.
“Kami belajar bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya berasal dari ide yang bagus, tetapi juga dari proses riset yang kuat, kerja sama tim, komunikasi yang baik, dan kemampuan memahami permasalahan nyata di masyarakat,” jelas Yasser.