Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga memiliki pengaruh. Hal ini karena transaksi pembelian minyak mentah maupun produk BBM di pasar internasional umumnya menggunakan mata uang dolar AS. Ketika dolar menguat atau rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal meskipun harga minyak dunia tidak mengalami lonjakan signifikan.
Dengan kata lain, kenaikan harga BBM pada awal Juni lalu bukan semata-mata disebabkan oleh menguatnya dolar. Pergerakan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi, hingga komponen operasional lainnya menjadi bagian dari perhitungan yang dilakukan sebelum harga BBM ditetapkan.
Kini, ketika harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan, peluang penyesuaian harga BBM ke arah yang lebih rendah pun semakin terbuka. Meski begitu, keputusan akhirnya tetap bergantung pada evaluasi Pertamina terhadap berbagai faktor tersebut.
Bagi masyarakat, kabar potensi turunnya harga BBM tentu menjadi harapan positif. Namun untuk sementara waktu, masyarakat diimbau menunggu pengumuman resmi dari Pertamina karena hingga kini belum ada informasi pasti mengenai tanggal maupun besaran penurunan harga BBM yang akan diberlakukan.