MOTOREXPERTZ.COM -- Banyak pemilik motor masih menganggap semua bensin itu sama saja, yang penting tangki penuh dan motor bisa jalan. Padahal, Bradsis, urusan bahan bakar enggak sesederhana itu, apalagi kalau motor yang dipakai punya rasio kompresi tinggi. Motor modern, terutama skutik premium, sport 150 cc ke atas, sampai motor bermesin performa tinggi, biasanya dirancang dengan kompresi lebih besar. Tentunya mesin seperti ini butuh bahan bakar dengan nilai oktan yang sesuai agar pembakaran di ruang mesin berjalan halus, stabil, dan tidak bikin komponen kerja terlalu berat. Masalahnya, masih banyak pengguna yang memaksa motor kompresi tinggi minum Pertalite karena alasan harga lebih ramah di kantong. Sekilas memang terlihat hemat, tapi efek jangka panjangnya bisa bikin dompet Bradsis justru lebih tipis kalau mesin mulai bermasalah. Rasio kompresi adalah perbandingan volume ruang bakar saat piston berada di titik bawah dan titik atas. Semakin tinggi kompresinya, semakin besar tekanan campuran udara dan bahan bakar sebelum dibakar oleh busi. Mesin dengan kompresi tinggi biasanya membutuhkan bensin beroktan lebih tinggi agar bahan bakar tidak terbakar lebih dulu sebelum waktunya. Kalau oktan terlalu rendah, pembakaran bisa terjadi tidak sesuai timing. Inilah yang sering disebut knocking atau mesin ngelitik. Dalam kondisi normal, percikan api dari busi akan membakar campuran udara dan bensin pada waktu yang sudah diatur oleh sistem pengapian. Tapi kalau bahan bakarnya tidak cocok, ledakan kecil bisa muncul lebih cepat dan menabrak ritme kerja mesin. BACA JUGA:Menang di Brno, Marc Marquez Mulai Bikin Aprilia Ketar-ketir Pertalite memiliki angka oktan yang lebih rendah dibandingkan bensin seperti Pertamax atau bahan bakar lain dengan RON lebih tinggi. Untuk motor dengan kompresi rendah sampai menengah, penggunaan Pertalite masih bisa sesuai rekomendasi tertentu. Tapi untuk motor kompresi tinggi, ceritanya beda. Efek pertama yang paling sering terasa adalah mesin jadi ngelitik, terutama saat motor dipakai menanjak, berboncengan, atau akselerasi mendadak. Suara “tik-tik” dari area mesin ini bukan sekadar gangguan kecil, Bradsis. Itu tanda pembakaran di ruang mesin tidak berjalan ideal. Efek berikutnya, tenaga motor bisa terasa loyo. Tarikan bawah kurang responsif, akselerasi terasa berat, dan mesin seperti harus bekerja lebih keras untuk mencapai kecepatan tertentu. Akibatnya, bukannya hemat, konsumsi BBM malah bisa lebih boros karena bukaan gas jadi lebih dalam. BACA JUGA:Rekomendasi Helm Full Face Kelas Rp1 Jutaan Bersertifikasi ECE 22.06 Terbaik untuk Sunmori Pagi Ini Kalau pemakaian bensin oktan rendah dilakukan sesekali dalam kondisi darurat, biasanya tidak langsung bikin mesin rusak parah. Namun, kalau motor kompresi tinggi terus-menerus dipaksa minum Pertalite, risiko jangka panjangnya patut diwaspadai. Knocking yang terjadi berulang bisa membuat suhu ruang bakar meningkat. Kondisi ini berpotensi mempercepat keausan komponen seperti piston, ring piston, klep, hingga dinding silinder. Dalam jangka panjang, performa mesin bisa turun dan biaya perbaikan jadi lebih mahal. Selain itu, pembakaran yang kurang sempurna juga dapat meninggalkan kerak karbon lebih cepat. Kerak ini bisa menumpuk di ruang bakar, kepala piston, dan area klep. Kalau sudah menumpuk, mesin makin tidak efisien, tarikan makin berat, dan gejala ngelitik bisa makin sering muncul.Kenapa Motor Kompresi Tinggi Butuh Bensin Oktan Lebih Tinggi?
Pertalite Dipakai di Motor Kompresi Tinggi, Apa Efeknya?
Risiko Jangka Panjang ke Mesin
Kategori :