Efisiensi tersebut menjadi salah satu alasan utama munculnya usulan regulasi baru.
Namun, konsekuensinya dinilai cukup besar bagi pebalap maupun tim.
BACA JUGA:Royal Enfield Shotgun 650 x Rough Crafts Edition Hadir di Indonesia, Cuma Ada 4 Unit!
Jika aturan diterapkan, pebalap harus lebih berhati-hati selama sesi latihan maupun kualifikasi.
Kesalahan kecil berpotensi mengganggu seluruh rangkaian akhir pekan balap.
Ketika motor mengalami kerusakan, pebalap harus menunggu proses perbaikan selesai.
Kondisi itu dapat mengurangi waktu berada di lintasan.
Risiko lain muncul apabila terjadi kecelakaan besar menjelang sesi penting.
Kerusakan berat berpotensi membuat motor tidak dapat diperbaiki tepat waktu.
Dalam situasi tersebut, pebalap bahkan bisa kehilangan kesempatan mengikuti kualifikasi, sprint race, maupun balapan utama.
Hal itu dinilai dapat mengurangi daya saing kompetisi.
BACA JUGA:Lanjutkan Perkenalan, Indomobil eMotor Luncurkan QT Series dan Tyranno X di Makassar
Bos Tech3 KTM, Guenther Steiner, termasuk sosok yang menolak usulan tersebut.
Menurut keterangannya, aturan satu motor justru tidak memberikan manfaat besar bagi penyelenggara maupun pabrikan.
Ia menilai produsen tetap harus menyiapkan suku cadang dalam jumlah sama.
Perbedaannya hanya terletak pada proses perakitan setelah motor mengalami kecelakaan.