BACA JUGA:Daimler Reitwagen, Motor Pertama di Dunia: Awal Mula Revolusi Transportasi Roda Dua
BACA JUGA:Sejarah Motor Kawasaki: Dari Motor Pertama hingga Raja Motor Sport
Namun seperti motor lawas lainnya, Kawasaki Binter juga punya beberapa kekurangan. Konsumsi bahan bakarnya tentu tidak seirit motor modern saat ini. Bobot motor yang cukup berat juga membuatnya terasa kurang praktis untuk dipakai di jalan sempit atau kondisi macet.
Seiring berkembangnya zaman, popularitas Kawasaki Binter perlahan mulai tergeser oleh motor-motor baru yang lebih modern, ringan, dan hemat bahan bakar. Produksi dan distribusinya di Indonesia akhirnya berhenti setelah pasar mulai berubah pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.
Meski begitu, nama Kawasaki Binter justru semakin dicari oleh pecinta motor klasik saat ini. Banyak kolektor dan komunitas motor lawas berburu unit Binter original untuk direstorasi. Bahkan harga Kawasaki Binter yang kondisinya masih bagus kini bisa cukup tinggi karena nilai historis dan nostalgia yang dimilikinya.
Kawasaki Binter bukan sekadar motor tua biasa. Motor ini adalah simbol era ketika motor besar klasik mulai menjadi impian banyak orang Indonesia. Sampai sekarang, aura gagah dan suara khasnya masih mampu membuat banyak pecinta otomotif jatuh hati begitu melihatnya di jalan.