Bukan Karena Rusak, Ini Alasan Motor MotoGP Sulit Hidup Lagi Setelah Terjatuh
Crash Fabio Quartararo di Sprint Race MotoGP Hungaria 2025--Instagram
Berbeda dengan motor harian, sistem yang ada motor MotoGP ini jelas tidak selalu bisa “reset” secara instan.
Prosedur Starter yang Tidak Sederhana
Menghidupkan motor MotoGP bukan cuma soal tekan tombol. Ada urutan elektronik, kopling, dan mapping mesin yang harus tepat. Setelah jatuh, kondisi ini sering berubah. Posisi sensor bergeser, suhu mesin naik drastis, atau tekanan oli tidak ideal.
Akibatnya, motor MotoGP jadinya bisa dibilang selalu menolak hidup walau tombol starter ditekan berkali-kali.
Risiko Mesin Rusak Terlalu Besar
Mesin MotoGP bekerja di putaran ekstrem dan toleransi yang sangat rapat. Setelah jatuh, ada risiko oli berpindah posisi, udara masuk ke sistem bahan bakar, atau komponen internal kehilangan pelumasan sesaat.
Dalam kondisi seperti ini, ECU lebih memilih “mengunci” mesin daripada memaksa hidup dan merusaknya secara permanen.
Bukan Kesalahan Rider, Tapi Batas Teknologi
Saat penonton melihat rider gagal menyalakan motor, itu bukan karena panik atau kurang skill. Justru sebaliknya, motor MotoGP terlalu pintar dan terlalu sensitif. Sistemnya lebih memprioritaskan keselamatan dan keawetan mesin balap yang nilainya miliaran rupiah.
BACA JUGA:Dapat Motor Jelek, Toprak Razgatlioglu Dinilai Bakal 'Gatot' di MotoGP 2026
BACA JUGA:Kalender Lengkap MotoGP 2026: Indonesia di Seri Berapa?
Kenapa Motor Bisa Hidup Lagi di Pit, Tapi Tidak di Trek?
Di pit, mekanik punya alat diagnostik untuk reset sistem, cek sensor, dan memastikan semua parameter aman. Di lintasan, rider hanya mengandalkan apa yang ada di motor. Kalau sistem menolak, balapan pun selesai.
Motor MotoGP susah hidup lagi setelah jatuh bukan karena rusak, tapi karena dibuat terlalu ekstrem untuk kompromi.
Temukan konten motorexpertz.com menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-

