Ketersediaan BBM, Shell tetap bertindak sebagai pemasok bahan bakar dan pelumas berkualitas mereka ke SPBU tersebut.
2. Bagian dari Strategi Global
Langkah ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global, Shell memang berencana menutup sekitar 1.000 SPBU di seluruh dunia hingga akhir 2025. Tujuannya adalah:
Fokus ke EV: Mengalihkan modal untuk mengembangkan infrastruktur pengisian kendaraan listrik (SPKLU).
Transformasi Portofolio: Mencari efisiensi bisnis dengan menggandeng mitra lokal untuk operasional ritel, sementara Shell pusat fokus pada produksi dan teknologi energi.
3. Sempat Ada Isu Kelangkaan Stok
Pada pertengahan hingga akhir 2025, sempat beredar kabar SPBU Shell tutup karena stok BBM (seperti Shell Super dan V-Power) kosong di banyak lokasi.
Hal ini disebabkan oleh kendala transisi pasokan dan regulasi impor, bukan karena perusahaan bangkrut.
Pemerintah sempat turun tangan untuk memastikan distribusi BBM non-subsidi tetap berjalan lancar selama masa transisi kepemilikan ini.
BACA JUGA:Tenaga Mesin Motor Jadi Loyo Gara-Gara Bensin? Ini Fakta yang Jarang Dibahas!
BACA JUGA:Tak lagi Motor Bensin, Kini Sunmori Motor Listrik, Mulai Dilirik?
4. Bisnis Lain Tetap Berjalan
Penting untuk dicatat bahwa Shell tidak keluar dari Indonesia. Mereka masih sangat aktif di sektor:
Pelumas (Oli): Pabrik pengolahan oli (Lubricants Oil Blending Plant) di Marunda tetap beroperasi bahkan kapasitasnya terus ditingkatkan.
Bisnis Hulu dan Industri, Penjualan bahan bakar untuk sektor industri, penerbangan, dan perkapalan tetap berjalan normal.
SPBU Shell tidak hilang, mereka hanya berganti manajemen di balik layar. Pengguna setia Shell masih bisa mengisi BBM di tempat yang sama, namun pengelolaannya kini dipegang oleh mitra strategis mereka.