Kondisi semakin keruh karena serangan fisik terhadap kapal-kapal tanker mulai terjadi. Hingga pertengahan Maret 2026, tercatat setidaknya 14 kapal terkena serangan proyektil di kawasan tersebut.
BACA JUGA:Motor Matic dan Listrik Semakin meluas, Apakah Motor Bebek Masih Layak Dibeli di 2026?
BACA JUGA:7 Rahasia Gila Bikin Motor Awet Sampai 10 Tahun, Nomor 3 Sering Diremehkan!
Hal ini membuat perusahaan keamanan maritim dan industri pelayaran internasional berada dalam level siaga tertinggi karena risiko operasional yang sangat besar.
Sentimen pasar langsung bereaksi liar terhadap ketidakpastian ini. Harga minyak mentah jenis Brent bahkan sempat melonjak hingga menyentuh angka 116 dollar AS per barel di akhir Maret.
Para investor dan spekulan pasar khawatir bahwa gangguan distribusi ini akan berlangsung dalam jangka panjang, yang bisa memicu krisis energi global.
BACA JUGA:Tenaga Mesin Motor Jadi Loyo Gara-Gara Bensin? Ini Fakta yang Jarang Dibahas!
BACA JUGA:Update Ketersediaan SPBU BP di Beberapa Wilayah: Bensin sudah Kembali Tersedia Lagi
Selain faktor fisik blokade, ketidakpastian juga dipicu oleh informasi yang tumpang tindih. Di satu sisi, ada klaim diplomasi dan pemberian izin lewat bagi beberapa tanker sebagai "iktikad baik".
Namun di sisi lain, Iran tetap memperketat pengamanan dan menolak proposal damai yang dianggap sepihak. Simpang siur informasi inilah yang membuat harga minyak terus berfluktuasi.
Amerika Serikat sendiri mulai mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah untuk mengawal jalur pelayaran. Namun, langkah militer ini justru dianggap sebagai pedang bermata dua.
Alih-alih meredakan situasi, pengerahan pasukan ini justru meningkatkan risiko terjadinya invasi darat atau perang terbuka yang lebih luas di kawasan Teluk.
BACA JUGA:Jangan Sampai Salah! Oli Gardan Motor Matic Dipakai Oli Mesin, Aman atau Justru Bikin Hancur?
BACA JUGA:Mitos atau Fakta? Motor Dipakai Lama CC Bisa Naik Sendiri, Ini Penjelasan yang Bikin Kaget!
Dampak dari kenaikan minyak mentah ini mulai terasa ke level retail di berbagai negara, termasuk kenaikan harga BBM dan biaya logistik. Negara-negara pengimpor minyak kini harus memutar otak untuk mencari jalur alternatif, meski secara geografis tidak ada yang seefisien melewati Selat Hormuz. Inflasi global pun mulai membayangi di depan mata.
Upaya diplomasi memang masih dilakukan melalui perantara beberapa negara tetangga, namun hingga saat ini belum ada titik temu yang konkret.