MOTOREXPERTZ.COM --- Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter yang berlaku efektif sejak Rabu, (10/08/2026), memicu kekhawatiran adanya migrasi konsumsi dari BBM nonsubsidi ke produk bersubsidi seperti Pertalite.
Pemerintah menegaskan bahwa penyesuaian harga ini merupakan langkah tak terelakkan guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah tingginya fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menekankan bahwa kebijakan ini juga bertujuan menjaga kesehatan industri hilir migas nasional, termasuk kelangsungan operasional penyalur bahan bakar swasta seperti VIVO dan BP-AKR agar tetap kompetitif.
"Kalau bicara kompensasi energi, tentunya bagi mereka yang berhak kalau kita bicara ini. Kondisi ini sekali lagi kami sampaikan, pemerintah nggak bisa kerja sendiri. Mau tidak mau kita bekerja bersama-sama masyarakat, pemerintah butuh bergandeng tangan dengan masyarakat," ujarnya.
BACA JUGA:Wahana Honda Sebar Promo SEJIWA di AHASS Jakarta-Tangerang, Servis Jadi Lebih Hemat!
BACA JUGA:Waze Segera Hadirkan Fitur Lampu Lalu Lintas Secara Real-Time
Antisipasi dan Mitigasi Migrasi BBM
Menanggapi risiko perpindahan konsumsi ke BBM bersubsidi, pemerintah melalui Kementerian ESDM terus melakukan koordinasi ketat dengan PT Pertamina Patra Niaga.
Berdasarkan pantauan data awal, pergeseran konsumsi saat ini dinilai belum signifikan dan masih didominasi perpindahan antar-produk nonsubsidi.
Pemerintah telah menerapkan sejumlah langkah mitigasi, seperti penggunaan QR code, namun tetap mengimbau kesadaran masyarakat agar tidak menggunakan hak subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi kelompok masyarakat rentan.
"Alhamdulillah tidak terlalu besar shifting-nya, mungkin dari pertamax turbo ya, ke pertamax saat ini. Dan antisipasi, mitigasi pasti dilakukan. Misalnya saat ini untuk akses BBM subsidi kan menggunakan QR ya, walaupun mungkin banyak juga oknum-oknum yang mengakali ini," kata Dwi.
BACA JUGA:LiveWire Mulai Produksi S4 Honcho Trail dan Street, Motor Listrik Praktis untuk Mobilitas Harian
BACA JUGA:Luca Marini Soroti Tantangan Honda di MotoGP Brno 2026 Setelah Hasil Balaton Park
Menjaga Ketepatan Sasaran Subsidi
Dwi menambahkan bahwa pengawasan di SPBU akan terus diperketat, namun ia tetap menegaskan peran krusial masyarakat dalam memastikan distribusi BBM subsidi tepat sasaran.
Fokus utama pemerintah adalah melindungi daya beli kelompok masyarakat ekonomi bawah, seperti petani dan nelayan, agar roda perekonomian tetap berjalan di tengah situasi ekonomi global yang menantang.
"Tapi yang paling penting, nggak semuanya harus diawasi, yang paling penting kesadaran dari masyarakat yang tumbuh. Mana yang haknya, mana yang bukan haknya, itu sih yang lebih penting. Agar kita bisa sama-sama survive. Karena memang kondisinya lagi survival mode on nih kita sekarang," tuturnya.